Infokuari
Vidio

Sejarah tentang Asal Muasal Nusantara dan alasan Gajah Mada ingin mempersatukan Nusantara.

13 Oktober 2026

Istilah Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno. Nusa berarti pulau, berasal dari Proto-Malayo-Polinesia, dan antara adalah kata serapan dari bahasa Sanskerta yang berarti di antara, luar, atau yang lain. Gabungannya secara harfiah berarti “pulau-pulau luar” atau “pulau-pulau lainnya”. Menurut Hans-Dieter Evers dalam jurnal Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society tahun 2016, istilah ini muncul dalam teks Jawa abad keempat belas dan merujuk pada fringes maritim Kerajaan Majapahit.

Bukti tertulis paling awal ditemukan pada prasasti Mūla Malurung dari Kerajaan Singhasari tahun 1255 Masehi, serta prasasti Sarwadharma tahun 1269 dan Balawi tahun 1305. Raja Kertanegara dari Singhasari sebelumnya telah menggunakan konsep serupa, Cakravala Mandala Dvīpāntara, dalam ekspedisi Pamalayu tahun 1275, sebagai upaya mempersatukan kepulauan menghadapi pengaruh Mongol.

Gajah Mada, yang wafat sekitar tahun 1364, lahir dari kalangan rakyat biasa. Ia naik pangkat sebagai komandan pasukan elite Bhayangkara. Menurut Encyclopaedia Britannica dan catatan dalam Pararaton, ia berhasil menyelamatkan Raja Jayanagara dari pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319. Kemudian ia diangkat sebagai mahapatih atau perdana menteri di bawah Ratu Tribhuwana Tunggadewi sekitar tahun 1334 hingga 1336.

Pada saat pengangkatannya, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang tercatat dalam naskah Pararaton abad kelima belas atau keenam belas. Bunyinya: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.” Artinya, ia tidak akan menikmati kesenangan atau beristirahat sebelum menaklukkan Nusantara dan wilayah-wilayah tersebut.

Mengapa Gajah Mada ingin mempersatukan Nusantara? Menurut analisis sejarawan Theodore Pigeaud dalam karyanya Java in the Fourteenth Century, serta Bernard Vlekke dan Philip Bowring, ini merupakan program politik ekspansi. Tujuannya adalah mengonsolidasikan kekuasaan Majapahit atas jalur perdagangan maritim strategis, mengamankan rempah-rempah, dan mewujudkan mandala kerajaan yang lebih luas. Ini kelanjutan dari visi Kertanegara, bukan nasionalisme modern, melainkan konsep geopolitik abad keempat belas.

Di bawah Raja Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak pengaruhnya. Kakawin Nāgara-Kěrtāgama karya Mpu Prapañca tahun 1365, yang diedit dan diterjemahkan secara kritis oleh Theodore Pigeaud, mencatat daftar panjang wilayah yang mengakui kedaulatan atau memberikan upeti kepada Majapahit, mencakup sebagian besar kepulauan Asia Tenggara maritim.

Konsep Nusantara kemudian dihidupkan kembali pada abad kedua puluh sebagai identitas anti-kolonial. Namun secara historis, ia merujuk pada “pulau-pulau luar” dari perspektif pusat Jawa Majapahit.


Sumber utama: Evers (2016), Pigeaud (1960–1963), Vlekke, Pararaton, Nāgara-Kěrtāgama, dan Encyclopaedia Britannica.